Dari membangun bisnis, sedekah Jumat, hingga ikut mendukung pondok pesantren di Kotamobagu – Boltim
KOTAMOBAGU — Tidak semua orang memandang kesuksesan dengan cara yang sama.
Bagi sebagian orang, kesuksesan mungkin berarti memiliki usaha yang besar, kehidupan yang mapan, atau nama yang semakin dikenal.
Namun bagi Dedeng Mopangga, kesuksesan seolah memiliki ukuran lain.
Bukan hanya tentang berapa banyak yang berhasil dikumpulkan, tetapi berapa banyak yang bisa merasakan manfaat dari apa yang dimilikinya.
Lahir pada 2 Januari 1984, Dedeng Mopangga tumbuh menjadi seorang pengusaha perempuan yang menjalani dunia bisnis sekaligus mempertahankan kepedulian terhadap masyarakat.
Ia dikenal sebagai Owner Qrani WO Kotamobagu dan pemilik RayonCH Konveksi, usaha yang bergerak di bidang pakaian berbahan rayon dan telah menjangkau berbagai wilayah.
Namun, di balik kesibukan mengurus usaha, ada sisi lain dari perjalanan Dedeng yang menarik perhatian: kebiasaannya berbagi.
Sejak 2018, sedekah dan kegiatan sosial menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Dan yang membuatnya berbeda, kepedulian tersebut tidak berhenti pada satu momentum.
Sedekah Jumat terus dijalankan.
Bukan karena ingin dikenal.
Bukan pula karena ingin dipuji.
Tetapi karena berbagi telah menjadi bagian dari cara Dedeng memaknai rezeki.
SAAT BISNIS TUMBUH, HATINYA TETAP DEKAT DENGAN MASYARAKAT
Membangun bisnis bukan perkara mudah.
Di balik sebuah usaha yang berdiri, selalu ada kerja keras, keberanian mengambil keputusan, jatuh bangun, serta perjalanan panjang yang tidak selalu terlihat.
Dedeng Mopangga menjalani perjalanan itu melalui Qrani WO dan RayonCH Konveksi.
Dunia wedding organizer dan dekorasi menjadi salah satu ruang baginya membangun usaha.
Sementara RayonCH Konveksi menjadi bagian lain dari perjalanan bisnisnya.
Namun ketika usaha berkembang, ada sesuatu yang tidak ikut berubah.
Kepeduliannya kepada masyarakat.
Di tengah kesibukan sebagai pengusaha, ia tetap menyisihkan sebagian rezekinya untuk berbagi.
Bagi Dedeng, semakin luas kesempatan yang diperoleh, semakin besar pula peluang untuk memberikan manfaat.
Di titik inilah cerita tentang Dedeng berubah dari sekadar cerita seorang pengusaha menjadi cerita tentang manusia dan kepeduliannya.
DARI SEDEKAH JUMAT HINGGA PONDOK PESANTREN
Kepedulian Dedeng tidak hanya terlihat dari aktivitas berbagi kepada masyarakat kecil.
Langkahnya juga menyentuh dunia pendidikan keagamaan.
Ia turut mengambil bagian dalam mendukung pembangunan sejumlah pondok pesantren di Kotamobagu dan Bolaamg Mongondow Timur.
Di antaranya Ponpes Desa Tabang Maulana Muis, Ponpes Desa Liberia Hj. Ansor, serta Ponpes Al-Mukhlasin Kelurahan Gogagoman yang diasuh Ustaz Safrin Taha.
Bagi Dedeng, pondok pesantren bukan sekadar bangunan.
Di tempat-tempat seperti itulah generasi muda mendapatkan ruang untuk belajar, tumbuh, dibina, dan mengenal nilai-nilai kehidupan.
Karena itu, dukungan terhadap pembangunan pesantren menjadi bagian dari kepeduliannya terhadap masa depan generasi.
Dari sedekah Jumat yang menyentuh masyarakat secara langsung, hingga dukungan terhadap tempat pendidikan, jejak kepedulian tersebut berjalan dalam bentuk yang berbeda.
Namun tujuannya sama:
memberi manfaat.
BUKAN SEKADAR MEMBERI, TETAPI HADIR
Ada perbedaan antara sekadar memberikan sesuatu dengan benar-benar hadir untuk orang lain.
Bagi sejumlah masyarakat yang pernah merasakan kepedulian Dedeng, yang paling berkesan bukan semata-mata nilai bantuan.
Melainkan kehadirannya.
Seorang warga menuturkan bahwa Dedeng dikenal bukan hanya ketika ada kegiatan besar.
“Yang kami hargai, beliau bukan hanya memberi saat acara besar saja. Kepedulian itu dilakukan terus. Sedekah Jumat dan berbagi kepada masyarakat kecil menjadi bukti bahwa beliau tidak hanya peduli saat ada peristiwa besar, tetapi dekat dengan masyarakat kecil.”
Ada pula yang mengenangnya sebagai sosok sederhana.
“Beliau orangnya sederhana. Tidak memandang dari pekerjaan atau statusnya. Ketika bertemu masyarakat kecil, tetap ramah dan mau berbicara.”
Kesaksian seperti itu mungkin terdengar sederhana.
Namun justru dari hal-hal sederhana itulah karakter seseorang sering kali terlihat.
Sebab seseorang bisa dikenal karena jabatan.
Bisa dikenal karena bisnis.
Bisa pula dikenal karena kekayaan.
Tetapi seseorang akan lebih lama dikenang karena kebaikan yang pernah dirasakan orang lain.
REZEKI YANG DIUBAH MENJADI HARAPAN
Perjalanan Dedeng bukanlah cerita tentang seseorang yang tiba-tiba sukses lalu memutuskan untuk berbagi.
Ada perjalanan panjang di belakangnya.
Ada usaha yang dibangun.
Ada perjuangan.
Ada risiko.
Ada jatuh bangun.
Dan ada keputusan untuk tetap menoleh kepada masyarakat ketika kehidupan mulai memberikan lebih banyak ruang dan kesempatan.
Sejak 2018, kegiatan berbagi menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Rezeki yang datang dari perjalanan usaha tidak hanya dipandang sebagai milik pribadi.
Sebagian diubah menjadi sedekah.
Sebagian menjadi bantuan.
Sebagian menjadi dukungan bagi masyarakat.
Dan sebagian lainnya mengalir untuk ikut mendukung pembangunan pondok pesantren.
Di situlah makna berbagi menemukan bentuknya.
Rezeki tidak berhenti ketika sampai kepada dirinya.
Rezeki itu kembali bergerak.
Menjadi senyum.
Menjadi bantuan.
Menjadi harapan.
Dan bagi sebagian orang, mungkin menjadi alasan untuk kembali percaya bahwa masih ada kepedulian di tengah kehidupan yang semakin keras.
DEDENG MOPANGGA DAN MAKNA KESUKSESAN
Ada pertanyaan sederhana yang sering terlupakan:
Untuk apa seseorang mengejar kesuksesan?
Untuk dirinya sendiri?
Untuk keluarganya?
Atau agar keberhasilannya dapat memberikan manfaat yang lebih luas?
Perjalanan Dedeng Mopangga menunjukkan bahwa kesuksesan dan kepedulian tidak harus dipertentangkan.
Bisnis dapat terus tumbuh.
Usaha dapat terus berkembang.
Tetapi hati tetap bisa dekat dengan masyarakat.
Itulah yang membuat perjalanan seorang pengusaha menjadi lebih manusiawi.
Karena pada akhirnya, angka keuntungan akan tercatat dalam laporan bisnis.
Nama usaha akan terpampang di papan.
Namun kebaikan yang dirasakan seseorang akan tersimpan lebih lama dalam ingatan.
JEJAK YANG DITINGGALKAN
Dedeng Mopangga mungkin dikenal sebagai pengusaha.
Namun cerita tentang dirinya tidak berhenti pada Qrani WO atau RayonCH Konveksi.
Ada jejak lain yang sedang dibangun.
Jejak kepedulian.
Sedekah Jumat.
Perhatian kepada masyarakat kecil.
Dukungan terhadap pondok pesantren.
Dan keinginan untuk menjadikan sebagian rezekinya sebagai manfaat bagi orang lain.
Semua itu menjadi bagian dari perjalanan seorang perempuan yang lahir pada 2 Januari 1984, yang kemudian memilih menjalani kesuksesan bukan hanya untuk dirinya sendiri.
Sebab hidup bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang mampu mencapai puncak.
Tetapi juga tentang berapa banyak tangan yang bisa ia bantu ketika berada di atas.
KETIKA KESUKSESAN MENJADI CAHAYA
Pada akhirnya, kisah Dedeng Mopangga bukan semata tentang seorang pengusaha yang berhasil membangun bisnis.
Ini tentang manusia.
Tentang rezeki.
Tentang kepedulian.
Tentang masyarakat kecil.
Tentang pendidikan.
Dan tentang pilihan untuk tidak membiarkan kesuksesan berhenti pada diri sendiri.
Dari sedekah Jumat hingga dukungan terhadap pembangunan pondok pesantren di Bolaang Mongondow, ada satu pesan yang terasa kuat:
Kesuksesan bukan hanya tentang memiliki lebih banyak.
Kesuksesan juga tentang mampu memberi lebih banyak.
Dan mungkin, di situlah keberhasilan menemukan makna yang paling manusiawi.
Ketika rezeki menjadi manfaat, ketika keberhasilan menjadi harapan, dan ketika kesuksesan seseorang ikut menjadi cahaya bagi kehidupan orang lain.
