DOLVI MARIAY: TANAH YANG MEMBESARKAN KITA, KINI MENUNGGU KEPastiANNYA

Haru Ribuan Keluarga Penambang Tobongon Saat Suara Kami Akhirnya Didengar

 

BOLTIM – Sebelum jalan raya lebar tercipta, sebelum gedung-gedung berdiri tegak, tanah di Desa Tobongon sudah menjadi ayah dan ibu bagi kami. Puluhan tahun berlalu, keringat leluhur menetes di sana, tangan kasar kakek dan bapak menggali rezeki dengan cara sederhana—tanpa suara mesin yang bising, hanya mengandalkan doa dan kekuatan tangan sendiri.

 

Kini, harapan yang sempat terpendam kembali bangkit tegak. Tindak lanjut cepat Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara lewat Dinas ESDM yang turun langsung ke lokasi untuk mengembalikan status Wilayah Pertambangan Rakyat, disambut dengan air mata syukur oleh seluruh warga.

 

Mewakili seluruh harapan itu, Dolvi Mariay, Ketua Satgas WPR Tobongon, berdiri tegak di tengah kerumunan. Dengan suara yang bergetar namun penuh keteguhan, ia mewakili ribuan keluarga yang hidupnya terikat tak terpisahkan dari tanah ini:

 

“Lihatlah anak-anak kami yang kini duduk di bangku kuliah, lihatlah asap yang setiap hari mengepul dari dapur kami. Semua itu berasal dari tanah yang sama yang kami garap turun-temurun. Tambang ini bukan sekadar pekerjaan—ia adalah susu yang kami minum, sekolah yang kami masuki, dan atap yang menaungi kami. Ia telah membesarkan kita semua.”

 

Dolvi menegaskan, tidak ada kekayaan besar yang diincar. Yang warga cari hanyalah satu hal: kepastian hukum. Agar tangan yang sudah puluhan tahun bekerja keras, tidak lagi gemetar karena takut. Agar anak cucu bisa melanjutkan jejak leluhur dengan tenang, aman, dan terhormat.

 

“Kami tidak merusak bumi. Kami mengambil secukupnya, sebagaimana yang diajarkan orang tua dulu. Hanya karena itu, kami berhak bekerja dengan rasa aman,” ucapnya dengan mata berkaca.

 

Sebagai Ketua Satgas, ia memohon agar seluruh proses pengesahan WPR Tobongon dikawal bersama, dari Pemkab hingga Pemerintah Pusat. Jangan sampai perjuangan yang sudah berjalan puluhan tahun ini berhenti di tengah jalan.

 

“Jika status ini sah, maka bukan hanya batu yang kami gali. Tapi kami menggali masa depan yang lebih terang bagi seluruh keluarga di Boltim. Mari kita buktikan, bahwa tanah yang setia memberi makan kita, pantas mendapatkan perlindungan yang setimpal,” pungkas Dolvi Mariay, mewakili ribuan doa yang terbang dari Desa Tobongon.