Media Nusantara BOLTARA- Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara mendapat perhatian dan keluhan dari masyarakat menyusul dugaan penurunan kualitas makanan yang disalurkan ke sejumlah sekolah Pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Boroko Kaidipang secara terbuka mengakui adanya perubahan rasa pada salah satu menu, sehingga segera dilakukan langkah penarikan guna mencegah risiko yang lebih luas
Keluhan bermula pada Senin, 8 Juni 2026, ketika siswa dan tenaga pendidik di SDN 13 Kaidipang mengonsumsi menu daging ayam yang disalurkan. Sejumlah siswa melaporkan mengalami keluhan kesehatan seperti sakit perut, diare, hingga muntah setelah mengonsumsi makanan tersebut Tidak hanya siswa, salah seorang guru juga merasakan gejala serupa usai memakan menu yang sama
Menanggapi laporan tersebut, Kepala SPPG Boroko Kaidipang, Kurvi Runtuwene, membenarkan adanya temuan perubahan rasa pada sebagian makanan yang disiapkan “Pada hari Senin itu kami temukan ada perubahan rasa pada menu daging ayam. Sebagai langkah pencegahan agar tidak menimbulkan kejadian yang lebih luas, kami segera menarik seluruh sisa makanan yang belum terdistribusikan ke sekolah,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Kamis (11/6/2026)
Hingga saat ini, pihak pengelola mencatat baru satu laporan aduan yang masuk dan belum ada laporan resmi mengenai Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan makanan Sementara itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara menyatakan masih dalam tahap penelusuran dan pemeriksaan. Pemeriksaan mendalam melalui uji laboratorium terkendala karena sampel makanan yang bersangkutan sudah tidak tersedia
Peristiwa ini menjadi perhatian publik dan menguatkan temuan kajian Center of Economic and Law Studies (Celios) tahun 2024 yang menyoroti dua aspek krusial dalam pelaksanaan program sejenis, yaitu efisiensi penyaluran dan jaminan kualitas
Dalam laporannya, tercatat 46 persen responden mengkhawatirkan sistem penyaluran yang belum efisien akibat kendala logistik, koordinasi, dan pengiriman. Sebanyak 14 persen lainnya menyampaikan kekhawatiran terkait kualitas makanan yang disalurkan. Celios menegaskan bahwa program yang bertujuan meningkatkan gizi anak hanya akan efektif jika didukung sistem pengelolaan yang baik. Makanan yang tidak terjamin keamanannya tidak hanya menurunkan kandungan gizi, tetapi juga berisiko membahayakan kesehatan penerima manfaat
Sebagai rekomendasi perbaikan, lembaga penelitian tersebut mengusulkan
– Penyaluran langsung ke sekolah tanpa perantara yang berlebih
– Pemanfaatan dapur masyarakat dan pengadaan bahan dari produk lokal serta UMKM
– Keterlibatan tenaga kesehatan setempat dalam pengawasan dan pemeriksaan awal
– Penerapan standar keamanan pangan yang ketat di setiap tahap pengolahan, penyimpanan, hingga pendistribusian
Pengakuan terbuka serta langkah cepat menarik makanan yang diduga bermasalah merupakan bentuk tanggung jawab awal yang patut diapresiasi. Namun, peristiwa ini menjadi pengingat tegas bagi seluruh pihak yang terlibat: keamanan, kesegaran, dan kualitas makanan bagi anak-anak adalah hal yang tidak dapat dikompromikan
Masyarakat mengharapkan adanya perbaikan menyeluruh, termasuk penerapan mekanisme penyimpanan sampel makanan untuk keperluan pemeriksaan jika dibutuhkan, serta pengawasan yang lebih ketat sejak awal proses pengolahan. Dengan sistem yang lebih baik, Program Makan Bergizi Gratis dapat terus berjalan dengan aman, terpercaya, dan memberikan manfaat nyata bagi tumbuh kembang generasi penerus bangsa
(Redaksi; Ruslandy)
