Makam Raja Mokodompis Di Sangihe Jadi Saksi Bisu Sejarah Perjuangan Melawan Penjajah

Media Nusantara Manado-Makam Raja Willem Manuel Pandengsolang Mokodompis, salah satu tokoh penting di Kepulauan Sangihe, menjadi salah satu cagar budaya yang menyimpan nilai sejarah mendalam. Makam ini terletak di Kecamatan Manganitu, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, bersama dengan makam keluarga lainnya seperti Raja W.H. Mokodompis yang berada di Desa Barangka, kecamatan yang sama.

Read More

 

Raja Mokodompis memerintah Kerajaan Manganitu dari tahun 1910 hingga 1944 (atau 1905-1944 menurut beberapa sumber). Ia dikenal sebagai sosok yang tegas menentang penjajah dan memiliki minat yang besar terhadap literasi, terbukti dengan adanya perpustakaan pribadinya yang berdiri sejak tahun 1900-an dan menyimpan koleksi buku langka seperti The Happy Hunting Grounds karya Kermit Roosevelt, Gone with the Wind, serta The Complete Works of William Shakespeare.

 

Sayangnya, pada masa pendudukan Jepang tahun 1944, Raja Mokodompis menjadi salah satu korban eksekusi yang dilakukan tentara Jepang di Kelurahan Bunga Lawang, Kecamatan Tahuna. Tuduhan yang diberikan kepada sang raja dan beberapa raja lainnya dianggap dibuat-buat oleh pihak penjajah.

 

Selain makamnya, istana atau rumah raja yang terletak di Desa Talo Arane, Kecamatan Manganitu, juga menjadi daya tarik wisata sejarah. Bangunan yang didirikan awal abad XX ini memiliki arsitektur sederhana dengan bahan utama kayu dan bambu, serta menyimpan berbagai peninggalan seperti keramik asing dan buku sejarah kuno.

 

Pemerintah daerah dan masyarakat berharap makam serta peninggalan Raja Mokodompis dapat terus dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya dan sejarah Kepulauan Sangihe, sekaligus menjadi sarana edukasi bagi generasi muda tentang perjuangan leluhur.

 

( Ruslandy)