KOTAMOBAGU _ MNT.CO.ID — Sebuah foto yang diabadikan dengan hati, nilainya jauh melampaui sekadar gambar di layar. Ia adalah jejak, cerita, dan warisan yang akan diteruskan dari generasi ke generasi. Inilah yang mendorong Komunitas Freelance BMR untuk memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan peringatan Hari Sumpah Pemuda yang diselenggarakan oleh Exposure Community BMR. Kegiatan ini akan berlangsung pada 28 Oktober 2026, bertempat di Sanpalk Area UMKM, Kampus UDK.
Bergerak di bidang fotografi dan videografi, Freelance BMR memahami betul bahwa di era digital ini, media visual memiliki kekuatan luar biasa. Ia bisa menjadi jendela yang memperkenalkan budaya bangsa kepada dunia, sekaligus cermin yang mengingatkan kita dari mana asal kita. Kemajuan teknologi bukan alasan untuk melupakan identitas, justru di sinilah peran pemuda semakin dibutuhkan — memegang kamera sekaligus menjaga jati diri.
Warsito Pua, selaku Ketua Komunitas Freelance BMR, menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini adalah ruang yang sangat berharga untuk menghidupkan kembali semangat kebersamaan.
“Kegiatan seperti ini harus terus kita hidupkan kembali. Di era digitalisasi ini, kebudayaan bangsa berada di tangan para pemuda — termasuk kita yang berkarya lewat lensa. Melalui foto dan video, kita bisa menceritakan kisah bangsa dan budaya kita kepada dunia,” ujar Warsito Pua.
Hal senada juga disampaikan oleh Supriadi Djainuri, Sekretaris Komunitas Freelance BMR. Baginya, kehadiran di kegiatan ini bukan sekadar datang dan pulang, melainkan bagian dari tanggung jawab bersama.
“Sebagai penggiat konten visual, kami melihat ini sebagai kesempatan emas untuk menampilkan wajah pemuda daerah yang kreatif, positif, dan bersatu. Setiap bingkai yang kita abadikan adalah bukti bahwa pemuda kita tetap cinta tanah air,” tambah Supriadi Djainuri.
Komunitas Freelance BMR berkomitmen untuk terus bersinergi, mendokumentasikan, dan menyebarluaskan semangat kebersamaan yang dibangun dalam kegiatan ini. Bukan sekadar mengabadikan momen, tetapi memastikan bahwa nilai-nilai persatuan dan kebudayaan tetap hidup dan terjaga.
Pesan moral yang ingin disampaikan sederhana namun bermakna dalam: Kamera bisa diganti, teknologi bisa berkembang, tetapi warisan budaya dan persatuan bangsa tidak boleh tergantikan. Apa yang kita rekam hari ini, adalah cerita yang akan diingat bangsa di masa depan.
******
