ESTAFET MERAH PUTIH KELUARGA BATARA RANDA Tiga Generasi, Satu Semangat: Menjaga Merah Putih dari Rumah

KOTAMOBAGU — Senin, 17 Agustus 2026

 

Ada haru yang tak selalu mampu diterjemahkan oleh kata-kata.

 

Di tengah khidmatnya upacara Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Alun-Alun Boki Hontinimbang, setetes air mata jatuh dari mata Yohanis Batara Randa. Jemarinya bergetar saat mengabadikan sebuah momen yang mungkin akan dikenang sepanjang hidupnya: putranya, Yosua Batara Randa, berdiri tegak sebagai bagian dari pasukan Paskibraka Kota Kotamobagu.

 

Bagi Yohanis, itu bukan sekadar barisan pasukan pengibar bendera.

 

Di balik seragam putih yang dikenakan Yosua, ia melihat perjalanan seorang anak yang perlahan tumbuh menjadi pribadi yang mampu memikul tanggung jawab. Ia melihat doa orang tua yang menemukan jawabannya dalam langkah tegap sang anak.

 

Dan hari itu, Merah Putih terasa begitu dekat dengan keluarganya.

 

ESTAFET YANG DITERUSKAN

 

Kisah kebanggaan keluarga Batara Randa tidak dimulai hari ini.

 

Setahun sebelumnya, pada peringatan HUT Kemerdekaan RI 2025, Theresia Natalia Batara Randa, kakak Yosua, terlebih dahulu menjadi bagian dari pasukan pengibar bendera.

 

Kini, pada 2026, giliran Yosua melanjutkan jejak tersebut.

 

Dua tahun berturut-turut, dua anak berdiri dalam barisan Paskibraka. Sebuah perjalanan yang menjadikan keluarga Batara Randa bukan hanya sebagai saksi, tetapi sebagai bagian dari cerita tentang bagaimana semangat pengabdian kepada bangsa dapat tumbuh dari lingkungan keluarga.

 

Theresia memulai.

 

Yosua meneruskan.

 

Dan estafet itu belum berhenti.

 

SURAT KECIL, MAKNA YANG BESAR

 

Di balik ketegasan Yosua saat menjalankan tugas, tersimpan sebuah cerita yang jauh lebih personal.

 

Sebuah surat tulisan tangan yang ia persembahkan kepada kedua orang tuanya.

 

Di dalamnya ada ucapan terima kasih, permohonan maaf atas kenakalan masa remaja, kerinduan selama menjalani masa karantina, serta sebuah tekad untuk memberikan yang terbaik.

 

Sederhana, tetapi mampu mengguncang hati orang tua.

 

Sebab bagi seorang ayah dan ibu, tidak ada hadiah yang lebih berharga selain melihat anaknya tumbuh menjadi seseorang yang bertanggung jawab dan memiliki mimpi untuk masa depan.

 

Yosua Batara Randa, siswa SMA Katolik Theodorus, kelahiran Makassar, 14 Juni 2010, menyimpan cita-cita menjadi ahli IT dan siber.

Sementara sang kakak, Theresia, kini mengarahkan langkahnya menuju cita-cita menjadi seorang dokter.

 

Dua anak.

 

Dua mimpi.

 

Satu keluarga yang terus memberikan dukungan.

 

DARI LAPANGAN HIJAU, MENUJU GENERASI BERIKUTNYA

 

Di belakang keberanian anak-anaknya, ada sosok ayah yang juga memiliki perjalanan panjang dalam perjuangan.

 

Yohanis Batara Randa, yang akrab disapa Pace Inzaghi, dikenal dalam sejarah sepak bola Bolaang Mongondow Raya sebagai pencetak gol tertua di ajang Wali Kota Cup pada usia 50 tahun.

 

Sebuah catatan yang menunjukkan bahwa usia bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

 

Namun kini, sorotan bukan lagi tertuju kepada rekor sang ayah.

 

Sorotan itu telah berpindah kepada anak-anaknya.

 

Kepada mimpi mereka.

 

Kepada perjuangan mereka.

 

Dan kepada masa depan yang sedang mereka bangun dengan langkah masing-masing.

 

«“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Pemerintah Kota Kotamobagu yang telah memberikan kesempatan besar kepada anak kami berturut-turut pada tahun 2025 dan 2026,” ujar Yohanis dengan suara yang dipenuhi haru.»

 

DARI RUMAH, UNTUK INDONESIA

 

Di antara kebanggaan hari ini, ada satu nama yang diam-diam mulai menatap masa depan.

 

Putri Hana Batara Randa, si bungsu yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

 

Melihat kakak-kakaknya berdiri membawa nama keluarga dan menjalankan tugas sebagai Paskibraka, Hana mulai menyimpan sebuah mimpi.

 

Bukan sekadar ingin mengikuti jejak.

 

Ia ingin membawanya lebih jauh.

 

Suatu hari nanti, ia bermimpi berdiri membawa Merah Putih bukan hanya di tingkat daerah, tetapi hingga Paskibraka Nasional.

 

Mungkin hari itu masih jauh.

 

Namun setiap perjalanan besar selalu dimulai dari sebuah mimpi kecil yang dirawat dengan doa, disiplin, dan ketekunan.

 

Theresia memulai estafet.

Yosua melanjutkan langkah.

Hana bersiap mengejar mimpi.

 

Tiga anak, tiga perjalanan, dan satu nilai yang diwariskan dari rumah:

 

Bahwa cinta kepada Indonesia tidak selalu dimulai dari panggung besar.

 

Kadang ia tumbuh dari doa seorang ibu.

 

Dari kebanggaan seorang ayah.

 

Dari kakak yang menjadi teladan.

 

Dari adik yang berani bermimpi.

 

Dan ketika Merah Putih berkibar di langit Indonesia, keluarga Batara Randa memiliki cerita sendiri untuk dikenang:

 

sebuah estafet kebangsaan yang dimulai dari rumah, diteruskan oleh generasi, dan semoga terus mengalir untuk Indonesia.