Langit Kotamobagu seolah ikut memanas, seiring gejolak yang kini dirasakan warganya. Di balik angka resmi Rp6.800 per liter untuk solar subsidi, tersembunyi kenyataan pahit di lapangan—harga yang melonjak tak masuk akal, menembus Rp16.000 hingga Rp18.000 per liter. Sebuah ironi yang menampar keras mereka yang paling bergantung pada bahan bakar itu untuk bertahan hidup.
Di sudut-sudut desa, suara mesin traktor yang biasanya menjadi tanda kehidupan kini berubah menjadi simbol kegelisahan. Para petani, penggilingan padi, hingga pelaku usaha kecil tercekik oleh biaya operasional yang kian tak terkendali. Mereka dipaksa memilih: berhenti bekerja, atau membeli solar dengan harga yang mencekik.
Fikri M, seorang pemilik traktor, hanya bisa pasrah. Dengan wajah lelah, ia mengisahkan bagaimana dirinya tak punya pilihan selain merogoh kocek lebih dalam. “Rp18.000 per liter… mahal sekali. Tapi kalau tidak beli, pekerjaan berhenti,” ujarnya lirih, seakan menahan beban yang tak terlihat.
Di Desa Poyowa, keluhan serupa bergema. Seorang pengusaha penggilingan padi mengungkapkan kekecewaannya. Dulu, solar masih bisa didapat dengan harga Rp10.000 per liter. Kini? Satu galon 25 liter bisa mencapai Rp400.000. Angka yang bukan hanya mencengangkan, tapi juga melumpuhkan. “Ini tidak wajar. Kami curiga ada permainan… ada yang menimbun, ada yang mengambil keuntungan dari penderitaan kami,” katanya dengan nada getir.
Di balik semua ini, bayang-bayang praktik ilegal kian terasa nyata. Dugaan penimbunan dan penyalahgunaan solar subsidi mencuat, memperkeruh situasi yang sudah genting. Rakyat kecil kembali menjadi korban, terjepit di antara kebutuhan hidup dan ulah segelintir oknum yang tak bertanggung jawab.
Namun, harapan belum sepenuhnya padam. Pihak kepolisian akhirnya angkat bicara. Dengan nada tegas, Kapolres Kotamobagu menyatakan perang terhadap praktik curang ini. Sebuah Satuan Tugas khusus telah dibentuk—sebuah langkah yang diharapkan mampu memutus rantai permainan kotor yang menyengsarakan masyarakat.Kini, semua mata tertuju pada langkah nyata aparat. Warga menunggu—bukan sekadar janji, tetapi tindakan. Karena bagi mereka, ini bukan hanya soal harga solar. Ini soal bertahan hidup.
